SECURITY STUDIES UPDATE

Dari Redaksi #1

Posted in Words from Editorial Board by securitystudiesupdate on April 30, 2009

Jakarta, 1 Mei 2009

Dalam edisi pertama Security Study Updates (SSU) ini kami berusaha menyajikan dua tulisan pembuka sebagai bentuk kegelisahan intelektualitas kami yang diharapkan dapat menggugah kita untuk berdiskusi lebih lanjut.

Tulisan pertama akan menganalisa isu seputar praktek penyiksaan (torture) terkait agenda perang melawan terorisme (war on terrorism) yang dikampanyekan oleh Amerika Serikat sejak 2001. Isu mengenai praktek penyiksaan kembali mencuat setelah Komisi Militer Senate AS membeberkan sebuah dokumen terkait otorisasi penggunaan kekerasan dalam interogasi para tahanan yang dicurigai terkait jaringan teroris pada April 2009. Secara spesifik, tulisan tersebut akan mencoba membahas mengenai narasi sejarah terhadap praktek-praktek kekerasan fisik dan psikologis dalam metode interogasi yang dikembangkan oleh badan intelijen AS (CIA/Central Intelligence Agency). Secara spesifik, tulisan tersebut membahas penggunaan metode Kubark yang dikembangkan pada masa perang dingin oleh CIA dan konsekuensinya terhadap skandal penyiksaan tahanan yang dicurigai sebagai teroris di Abu Ghraib, Irak. Metode kubark adalah metode yang diklaim oleh CIA sangat efektif dalam menghancurkan kapasistas resistensi sumber intelijen lewat penggunaan kekerasan fisik maupun psikologis. Kampanye perang melawan terorisme sendiri kemudian memberikan kesempatan emas bagi metode kubark untuk mendominasi pola interogasi perang. Hal ini yang menurut penulis dipermudah dengan adanya dikotomi moralitas dan doktrin perang yang kabur dalam bentuk perang baru tersebut.

Selanjutnya, tulisan kedua membahas mengenai krisis kemanusiaan yang terjadi di Sri Lanka sebagai akibat dari konflik berkepanjangan antara Pemerintah Sri Lanka dan kelompok gerilyawan Macan Tamil (LTTE/Liberation Tigers of Tamil Eelam).Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi krisis kemanusiaan dalam konflik di Sri Lanka semakin parah diawal dan menjelang pertengahan tahun 2009 ketika pemerintah memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih keras terhadap para gerilyawan Macan Tamil. Terlepas dari deklarasi pemerintah atas keberhasilannya dalam memukul mundur gerilyawan Macan Tamil pada bulan April 2009, tindakan koersif pemerintah tersebut ternyata juga menimbulkan permasalahan baru yakni lonjakan angka pengungsi yang semakin mengkhawatirkan. Permasalahan rehabilitasi para pengungsi kemudian menghiasi situasi pasca-konflik bersenjata di Sri Lanka dan harus ditangani sesegera mungkin. Sebagai penutup dalam analisisnya, penulis kemudian menyimpulkan tiga permasalahan mendasar yang harus menjadi fokus perhatian dalam rehabilitasi pengungsi yakni, dalil perang melawan terorisme, disparitas etnis dan masalah distribusi kesejahteraan dan keadilan politik.

Akhir kata, kami selaku pengelola dan kontributor dari blog ini berharap apa yang kami berikan dapat menstimulasi daya kritis kita. Kami sadar bahwa tulisan-tulisan ini masih jauh dari sempurna dan untuk itu kritik, ide, saran maupun komentar dari para pembaca sangat kami harapkan.

Salam Redaksi SSU,

Aditya Batara Gunawan | Muhamad Haripin

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sigit said, on May 1, 2009 at 2:51 am

    Temuan yang bagus.. ditunggu temuan2 lainnya.. terutama senjata pemusnah massal yang di klaim oleh AS sebagai dalih memerangi terorisme.. biar tambah lagi ilmu saya.hehe..

    • securitystudiesupdate said, on May 6, 2009 at 9:51 am

      Thanks Sigit. Soal WMD memang itu menjadi problematik hingga sekarang, bahkan mungkin komunitas internasional sekarang sudah menganggap isu WMD sebagai kebohongan publik yang bisa diterima demi memerangi terorisme. Mudah2an di masa mendatang kami bisa menghadirkan tulisan seputar WMD, jika anda berminat menulis soal isu tersebut kami juga bersedia menampungnya. Salam SSU.

  2. mutiara said, on May 5, 2009 at 11:47 am

    Selamat untuk edisi perdananya, tulisan yang menarik.

    Mengenai metode kubark, apa ada konvensi internasional yang melarang penggunaannya untuk menggali data dari tersangka ? saya melihat justifikasi terkuat bagi praktik penyiksaan in adalah fakta bahwa AS tidak mengganggap metode tersebut melanggar konvensi jenewa, disamping argumen objek penyiksaan yang non-negara dan urgensi war on terror yang superior vis a vis hak-hak detainee.

    • securitystudiesupdate said, on May 6, 2009 at 9:47 am

      Terimakasih mutiara atas komentarnya. Tidak ada konvensi internasional yang melarang Kubark secara definitif. Senat AS sendiri telah meratifikasi UN convention against torture, sayangnya definisi torture dalam ratifikasi tersebut dibuat mengambang juga. Torture diartikan sebagai penyiksaan fisik dan psikis yang bisa mengakibatkan kegagalan organ tubuh. Permasalahannya, dalam war on terrorism, terjadi dalam wilayah jurisdiksi yang berbeda, sehingga pemerintah AS memiliki ‘kesulitan’ untuk mengadili pihak2 yang terlibat. Hal ini kemudian ditambah dengan belum diratifikasinya Konvensi Jenewa soal perlakuan terhadap tahanan perang oleh AS yang kemudian memberikan kesempatan luas bagi Kubark untuk diinterpretasikan dalam perang melawan terorisme.

      Akan tetapi, pada bulan februari 2009 lalu, salah seorang Senator di AS, Ralph Nader, mengajukan rancangan undang-undang anti penyiksaan di Konggres AS (American Anti-Torture Act of 2009). Dalam draft RUU tersebut disebutkan bahwa ‘In General- No person in the custody or under the effective control of the United States shall be subject to any treatment or technique of interrogation not authorized by and listed in the United States Army Field Manual on Human Intelligence Collector Operations’. Manual Intelijen yang dimaksud tersebut adalah Kubark yang digunakan dalam pendidikan intelijen militer AS sejak Perang Dingin. RUU ini sendiri masih dibahas di tingkat Komite Militer Konggres AS, kita liat saja nanti perkembangannya, apakah pemerintah AS benar2 serius dalam menghapuskan torture atau lagi-lagi cuma retorika.

  3. mutiara said, on May 7, 2009 at 1:47 pm

    Terima kasih, Saudara Aditya Batara.

    Ralph Nader sepertinya tidak sendirian. Saya browse informasinya dan ternyata banyak sekali civil society yang mendukung langkah ybs. semoga ini bukan retorika belaka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: