SECURITY STUDIES UPDATE

Teror Dibalas Teror: Kubark dan Diskursus Perang Melawan Terorisme

Posted in Cakrawala SSU by securitystudiesupdate on April 30, 2009

Oleh Aditya Batara Gunawan*

I must be cruel only to be kind

(Hamlet, William Shakespeare)


Kutipan dari karya seni terkenal William Shakespeare tersebut memang sangat fenomenal. Ada dua kata sifat yang substansial dalam pernyataan Hamlet tersebut yaitu cruel (kejam) dan kind (baik). Sebuah dikotomi yang kemudian dituliskan dalam konteks yang natural dimana seseorang dapat bertindak kejam untuk mendapatkan kebaikan. Akan tetapi, hal ini tentunya mengundang banyak perdebatan karena dapat menjadi justifikasi bagi seseorang untuk berperilaku kejam dan mengemasnya dengan alasan kebaikan. Disini kita mulai ragu apakah perilaku kejam tersebut ternyata lebih dari persoalan moralitas. Moralitas ternyata bukan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang objektif ketika politik mulai merasuki definisinya. Moralitas menjadi sesuatu yang abstrak, sesuatu yang hanya dapat diterjemahkan oleh pihak yang berkuasa. Hal inilah yang kemudian menurut penulis dapat menjadi gambaran filosofis bagi pemerintahan Amerika Serikat (AS) dibawah Presiden George W Bush untuk mengkampanyekan perang melawan terorisme. Tidak terhitung berapa banyak konseptualisasi moralitas yang diutarakan Bush sebagai simbol bagi diskursus perang melawan terorisme yang diciptakannya. Simbol-simbol tersebut kemudian terintegrasi menjadi sebuah antagonisme politik yang mengerikan dan bahkan semakin mengaburkan aspek moralitas itu sendiri. Salah satu bentuk kaburnya definisi moralitas dalam diskursus perang melawan terorisme adalah mencuatnya kasus penyiksaan (torture) terhadap para tahanan perang yang dicurigai sebagai anggota jaringan teroris pasca peristiwa 9/11.

Oleh karena itu, tulisan ini berusaha untuk mengeksplorasi sejarah penggunaan kekerasan, atau lebih tepatnya penyiksaan (torture) sebagai bagian dari sebuah niat yang diklaim ‘mulia’ oleh kampanye perang melawan terorisme yang dipromotori pemerintahan Amerika Serikat dibawah Presiden George W Bush. Sebuah metode interogasi yang mengeksploitasi rasa sakit dan rasa takut individu (sumber intelijen) demi mendapatkan sebuah ‘kebenaran’, sesuatu yang masih menjadi pertanyaan besar dalam diskursus perang melawan terorisme hingga saat ini.

Perdebatan mengenai penyiksaan dalam metode interogasi kembali menghangat ketika pada hari Selasa (21 April 2009) lalu, Komite Militer Senat Konggres AS merilis sebuah laporan mengenai metode interogasi pasca 9/11. Dalam laporan setebal 232 halaman tersebut disebutkan bahwa pemerintahan George W Bush telah memberikan wewenang kepada militer AS untuk menggunakan metode interogasi brutal terhadap individu yang dicurigai terkait dengan peristiwa 9/11 (The Jakarta Post, Rabu 21 April 2009). Memang sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa penggunaan metode-metode yang merepresentasikan torture demi menyingkap kebenaran adalah aksesoris utama dalam agenda war on terrorism (perang melawan terorisme) yang gencar dikampanyekan oleh Pemerintahan AS dibawah kendali mantan Presiden George W Bush. Diskursus war on terrorism yang menyiratkan oposisi biner antara good versus evil telah mendekonstruksi kontekstualitas perang dalam perspektif tradisional. Dalam diskursus tersebut, negara bukan lagi aktor utamanya tapi sebaliknya aktor non-negara yang kemudian muncul ke permukaan sebagai bentuk ancaman baru dalam kemasan teroris. Hegemoni yang diciptakan oleh agenda perang melawan terorisme tersebut diikuti oleh hasrat balas dendam yang tidak terkendali, simbolisasi teroris kemudian merasuk ke ranah privat. Sebagai implikasinya, tubuh yang merupakan substansi privat telah menjadi objek politik kebencian yang lazim lewat metode-metode penyiksaan fisik dan psikis dalam interogasi terkait perang melawan terorisme. Akan tetapi, apakah metode penyiksaan ini adalah eksklusifitas kampanye perang melawan terorisme? Jawabnya tentu saja tidak. Sejarah menunjukkan bahwa badan intelijen AS (Central Intelligence Agency atau CIA) telah mengembangkan metode penyiksaan dalam interogasi sejak empat dekade yang lalu lewat sebuah proyek rahasia bernama MKUltra. Metode penyiksaan tersebut lebih dikenal dengan nama metode ‘Kubark’ yang berasal dari nama sandi sebuah buku panduan interogasi kontra-intelijen yang diterbitkan oleh CIA pada masa perang dingin dari hasil penelitian seorang ahli psikiatri kelahiran Skotlandia yang berkewarganegaraan AS, Dr. Donald Ewen Cameron.

Pada tahun 1953, beberapa peneliti CIA tertarik dengan metode physic driving yang digunakan oleh Dr. Ewen Cameron dalam mengobati para pasien gangguan jiwanya. Cameron mengembangkan sebuah metode inkubasi psikologis untuk mengembalikan ingatan para pasien sakit jiwanya dengan cara menginfiltrasi pikiran mereka atau menghancurkan pola psikologis yang ada pada diri mereka agar dapat kembali kepada keadaan ‘normal’. Mekanisme utama dalam metode yang dikembangkan oleh Cameron disebut dengan depatterning yang bertujuan untuk menetralisir otak dan mengembalikannya ke situasi awal (Klein, 2008). Hal ini menurut Cameron dapat dicapai dengan cara menyerang sistem saraf lewat apa saja untuk mengganggu fungsi normalnya atau dengan kata lain, mematikan tabula rasa individu.

Metode yang dikembangkan oleh Cameron tersebut kemudian berhasil mendapatkan hibah dari CIA untuk penelitian lanjutan pada tahun 1957 melalui sebuah lembaga rekaan CIA yang bernama the society for the investigation of human ecology. Proyek penelitian tersebut kemudian dikenal dengan nama MKUltra dan dibiayai oleh CIA sejak tahun 1957 hingga 1961 dengan tujuan mengembangkan metode interogasi yang efektif dalam era perang dingin untuk memperoleh informasi dari agen intelijen asing atau agen ganda yang banyak beroperasi pada masa itu. Sayangnya, proyek tersebut bersifat sangat tertutup dan kemudian mengundang banyak pertanyaan di masyarakat Amerika Serikat.

Akhirnya pada tahun 1997, The Baltimore Sun melalui perangkat Undang-Undang Kebebasan Informasi Publik berhasil memaksa CIA untuk membeberkan sebuah dokumen terkait dengan Proyek MKUltra (NSA, 2004). Dokumen tersebut adalah sebuah buku panduan setebal 128 halaman berjudul ‘Kubark Counter Intelligence Interrogation’ dan memuat metode interogasi beragam yang dikembangkan oleh penelitian MKUltra. Metode ‘kubark’ diklaim dapat mempermudah investigator untuk mengeksplorasi informasi dari sumber intelijen dengan menghancurkan kapasitas resistensi yang dimiliki sumber.

Deskripsi diatas kemudian merangsang kita untuk berpikir mengenai bagaimana metode interogasi yang dianut oleh CIA tersebut diimplentasikan dalam konteks perang melawan terorisme? Salah satu contoh kasus yang menarik adalah skandal penyiksaan tahanan di penjara Abu Ghraib Irak yang menampar keras wajah AS di awal tahun 2004. Berdasarkan National Security Archive, Kubark menjadi dokumen utama dalam metode koersif yang memicu skandal penyiksaan terhadap para tahanan teroris tersebut (NSA, 2004). Skandal penyiksaan di Abu Ghraib dapat menjadi sebuah contoh yang menarik sebagai ilustrasi bagaimana metode Kubark diterapkan pada masa kampanye melawan terorisme dengan sedikit improvisasi. Semua berawal lewat sebuah memorandum yang diberikan oleh Alberto Gonzales kepada George W Bush terkait dengan aplikasi Konvensi Jenewa mengenai perlakuan terhadap tahanan perang dalam konteks konflik pemerintah AS dengan Taliban/Al Qaeda pada Januari 2002. Dalam memorandum tersebut disebutkan bahwa aturan-aturan dalam Konvensi Jenewa tidak berlaku dalam konflik pemerintah AS versus Al Qaeda karena konteks konflik tersebut merepresentasikan sebuah era perang baru yakni perang melawan terorisme (Slate Magazine).[1] Dalam perang tersebut, urgensi untuk mendapatkan informasi yang cepat menjadi logika utama dalam interogasi sehingga diharapkan dapat meminimalisir aksi terorisme susulan yang dapat membahayakan Amerika Serikat. Oleh karena itu, menurut Gonzales aturan-aturan dalam Konvensi Jenewa tersebut bersifat sangat terbatas dalam konteks tahanan peran melawan terorisme (Slate.com). Bush sendiri kemudian mempublikasikan sebuah memorandum kepada para anggota kabinetnya terkait dengan perlakuan terhadap para tahanan perang tersebut pada Februari 2002. Dalam memorandum tersebut, Bush menyatakan bahwa tidak satupun pasal-pasal dalam Konvensi Jenewa yang berlaku dalam konflik antara Pemerintah AS dengan Al Qaeda di Afghanistan atau dimanapun juga karena Al Qaeda diasumsikan bukan ‘aktor negara ‘yang terikat dengan Konvensi Jenewa (Danner 2004: 105). Akan tetapi, disisi lain, militer AS  jugadiharuskan untuk memperlakukan para tahanan secara manusiawi dan sesuai dengan prinsip-prinsip konvensi Jenewa (Danner 2004: 106). Interpretasi yang mengambang ini tentu saja memberikan landasan yang kuat bagi para intelijen militer AS untuk kemudian mengembangkan metode interogasi yang dianggap sesuai dengan kebutuhan informasi pada masa perang melawan terorisme. Pada bulan April 2003, ketika Menteri Pertahanan AS pada waktu itu, Donald Rumsfeld memberikan sebuah memorandum kepada militer AS (Panglima Komando Selatan) mengenai teknik interogasi terhadap sumber-sumber resisten dalam perang melawan terorisme di Guantanamo (Slate.com). Memorandum tersebut memuat teknik-teknik interogasi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi dari tahanan perang melawan terorisme, diantaranya manipulasi pola makan (mengubah jadwal makan), manipulasi lingkungan (menciptakan suasana tidak nyaman terhadap tahanan), mengubah pola tidur para tahanan (mengubah jadwal tidur dari malam ke siang hari) dan isolasi hingga 30 hari (Slate.com). Permasalahan utama dalam memorandum tersebut lagi-lagi adalah adanya aturan yang fleksibel. Misalnya, dalam memorandum tersebut disebutkan bahwa US Armed forces shall continue to treat detainees humanely..in a manner consistent with the principles of the Geneva Conventions..namun setelah itu dinyatakan juga bahwa nothing in this memorandum in any way restricts your existing authority to maintain good order and discipline among detainees (Slate.com). Penggunaan pasal karet tersebut kemudian sekali lagi menciptakan sebuah interpretasi yang mengambang sehingga perlakuan kasar terhadap para tahanan perang pun tidak dapat dihindari dan menyebar dari instalasi penjara AS di Afghanistan hingga Irak.

Hal ini terbukti pada tahun 2004, setelah isu mengenai penyiksaan di penjara Abu Ghraib muncul ke ranah publik. The International Committee for Red Cross (ICRC) kemudian melakukan serangkaian investigasi dan menemukan bahwa telah terjadi kekerasan fisik dan psikologis terhadap para tahanan. Adapun bentuk kekerasan tersebut sebagai berikut (Danner, 2004).

  1. Penggunaan penutup kepala yang ditujukan untuk membatasi penglihatan dan pernapasan para tahanan serta mendisorientasikan mereka. Penggunaan penutup kepala seringkali digunakan bersamaan dengan pemukulan. Durasi penggunaan penutup kepala dapat mencapai hingga 4 hari.
  2. Tangan diikat dengan plastik fleksibel yang seringkali dibuat sangat ketat dan digunakan dalam durasi yang lama sehingga menyebabkan cedera pada kulit dan efek jangka panjang pada tangan (rusaknya pembuluh darah).
  3. Pemukulan dengan objek/material keras (pistol atau senapan), ditampar, ditendang dengan lutut atau kaki di berbagai bagian tubuh tahanan (kaki, pinggang, dsb).
  4. Ditelanjangi dan dijejerkan diluar sel tahanan di hadapan orang lain. Seringkali kepala mereka ditutup dengan penutup kepala (hoodie) atau celana dalam wanita.
  5. Diikat berkali-kali selama beberapa hari ke jeruji penjara atau pintu sel dalam keadaan telanjang atau dalam posisi yang dapat menyebabkan rasa sakit.
  6. Dijemur di terik matahari dengan penutup kepala selama beberapa jam dimana suhu udara dapat mencapai 122 derajat fahreinheit atau lebih.
  7. Dipaksa untuk jongkok atau berdiri dengan atau tanpa kaki diangkat dalam waktu yang lama.

Lebih lanjut, delegasi medis ICRC yang juga melakukan evaluasi terhadap para tahanan di Abu Ghraib menemukan bahwa sebagian besar para tahanan menunjukan tanda-tanda kesulitan dalam berkonsentrasi, berkurangnya daya ingat, kesulitan berbicara atau inkonsistensi dalam berbicara, reaksi kegelisahan akut, perilaku abnormal dan tendensi untuk bunuh diri. Semua gejala ini adalah efek yang diharapkan dalam metode kubark yaitu menciptakan krisis identitas pada subjek. Metode-metode interogasi yang melibatkan isolasi hingga kekerasan verbal dan fisik tersebut didasarkan pada hasil penelitian Cameron yang mengenai pemusnahan sensorik (sensory deprivation). Fokus dari metode ini menurut Cameron bertujuan mengganggu formulasi waktu-ruang-citra melalui isolasi, kekerasan verbal, fisik dan eksploitasi rasa takut untuk menciptakan ‘shock’ pada objek (Klein, 2008). Seperti yang dikemukakan dalam buku panduan Kubark, metode pemusnahan sensorik dilandaskan pada argumen bahwa pemusnahan stimulus sensorik akan mengakibatkan subjek melemah secara psikologis dan hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan memutus kontak antara pikiran subjek dengan dunia luar agar dia merasa berada dalam sebuah lingkungan yang aneh dan berbeda (CIA Kubark Manual, 1963). Manipulasi terhadap subjek ini sendiri kemudian akan menciptakan sebuah rasa takut/bersalah yang berlebihan pada subjek, meningkatkan kegelisahan subjek dan pada akhirnya subjek akan mau bekerja sama sebagai sebuah alternatif untuk melepaskan diri dari kondisi tertekan tersebut (CIA Kubark Manual, 1963: 68). ICRC sendiri kemudian menyimpulkan bahwa temuan-temuan medis mereka atas para tahanan di Abu Ghraib disebabkan oleh metode dan durasi interogasi yang diterapkan pada mereka (Danner, 2004:7).

Pemerintah AS kemudian merespon skandal tersebut dengan melakukan serangkaian investigasi internal di penjara Abu Ghraib. Dalam laporannya (yang juga dikenal dengan The Fay Report), tim investigasi menemukan bahwa telah terjadi penyiksaan fisik dan psikis terhadap para tahanan di penjara Abu Ghraib, mulai dari pelecehan seksual, pemukulan, penggunaan anjing untuk menakut-nakuti tahanan[2] dan ditelanjangi (The Fay Report, 2004: 68). Mereka juga menemukan bahwa para petugas di penjara tersebut telah ‘lalai’ dalam melaporkan insiden penyiksaan tersebut. Setidaknya dari 25 Juli 2003 hingga 6 Februari 2004, 27 personel militer AS dianggap terlibat dalam skandal penyiksaan tersebut. Tim tersebut kemudian menilai bahwa praktek penyiksaan yang terjadi di Abu Ghraib adalah konsekuensi dari tidak adanya aturan yang spesifik maupun prosedur yang mengatur mengenai perlakuan manusiawi atau brutal terhadap para tahanan (The Fay Report, 2004: 21). Akibatnya unit interogasi militer dan intelijen mengembangkan metodenya sendiri dalam memperlakukan para tahanan, sebuah metode yang telah lama menjadi bagian dari militer dan intelijen AS selama empat dekade, yakni Kubark.

Tindak kekerasan yang terjadi di penjara Abu Ghraib kemudian menimbulkan pertanyaan mendasar yakni apakah pemerintah AS dibawah Presiden George W Bush telah lalai dalam memberikan interpretasi yang jelas atas praktek interogasi dan perlakuan terhadap tahanan atau mungkin kelalaian tersebut disengaja? Penulis sendiri mencoba melihat perilaku penyiksaan terhadap tahanan perang melawan terorisme yang terjadi di Abu Ghraib dengan merefleksikan kembali polarisasi dikotomi yang didiskusikan di awal tulisan ini. Pernyataan Hamlet bahwa I must be cruel only to be kind seolah-olah merepresentasikan justifikasi yang ada dalam perang melawan terorisme. Sayangnya, justifikasi moral tersebut juga diikuti oleh kontradiksi-kontradiksi yang akhirnya mendestabilisasi diskursus perang melawan terorisme. Skandal penyiksaan (torture) dalam hal ini menjadi contoh yang sangat nyata bahwa kampanye perang melawan terorisme sudah saatnya didekonstruksikan kembali. Tentunya ini menjadi beban berat yang menjadi tanggung jawab Presiden Barack Obama untuk ‘membersihkan’ kekacauan-kekacauan yang dilakukan oleh Presiden Bush pada masa kepemimpinannya. Niat Obama untuk menutup penjara Guantanamo hanyalah sebuah langkah awal untuk mendekonstruksikan kampanye perang melawan terorisme. Hal yang paling mendasar adalah bagaimana Presiden Obama berani untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam skandal penyiksaan tersebut dan merestrukturisasi pola interogasi dan perlakuan terhadap tahanan perang yang telah bertahan selama lebih dari empat dekade di tubuh militer AS.

*Alumni Ilmu Politik UI dan mahasiswa program pascasarjana studi konflik, University of St.Andrews, UK.

Bibliografi

Danner, M (2004). Torture and Truth: America, Abu Ghraib and The War on Terror. New York: The New York Review Books.

Greenberg, K.J and Dratel, J.L (ed) (2005). The Torture papers : the road to Abu Ghraib. New York : Cambridge University Press, 2005.

Klein, N (2008). The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism. London: Penguin Books.

Levinson, S (2004). Torture: A Collection, New York & Oxford: Oxford University Press.

Lang, A. F, et.al (ed). War, torture and terrorism: rethinking the rules of international security. London and New York : Routledge, 2009.

CIA, Kubark Intelligence Interrogation Manual, Juli 1963, diakses dari http://www.gwu.edu/~nsarchiv/ pada 20 April 2009.

NSA, Prisoner Abuse: Pattern from The Past, 2004 diakses dari http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB122/#kubark pada 20 April 2009.

Slate.com, What is Torture: A Primer on American Interrogation, http://www.slate.com/features/whatistorture/LegalMemos.html pada 21 April 2009.

The Fay Report: Investigation of Intelligence Activities at Abu Ghraib, 2004, dapat diunduh dalam format pdf melalui www.google.com.

Human Rights First, One Year After the Abu Ghraib Torture Photos: U.S. Government Response ‘Grossly Inadequate, 2005, diakses dari http://www.humanrightsfirst.org/us_law/etn/statements/abu-yr-042605.htm pada 21 April 2009.

The Jakarta Post, www.thejakartapost, edisi 21 April 2009.


[1] Dokumentasi mengenai memorandum-memorandum yang terkait dengan kasus penyiksaan terhadap para tahanan perang melawan terorisme dapat dilihat di http://www.slate.com/features/whatistorture/LegalMemos.html.

[2] Kasus penggunaan anjing sebagai unsur eksploitasi phobia dilakukan lewat berbagai cara. Dari hasil temuan tim investigasi, dalam sebuah kesempatan, para petugas penjara melepaskan seekor anjing penjaga tanpa diikat kedalam sebuah sel yang dihuni oleh dua orang tahanan yang menyebabkan kedua orang tahanan tersebut mengalami depresi berat karena rasa takut. Selain itu, tim investigasi juga melaporkan bahwa penyiksaan fisik dan pelecehan seksual adalah kasus yang paling parah terjadi di Abu Ghraib (The Fay Report, 2004: 68).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: