SECURITY STUDIES UPDATE

17 Juli

Posted in Cakrawala SSU by securitystudiesupdate on July 31, 2009

Oleh Redaksi SSU

Bom itu meledak pada pagi hari tanggal 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, Jakarta. Korban tewas serta luka pun bergelimpangan. Indonesia (kembali) berhadapan dengan teror.

Serangan bom bunuh diri, yang merupakan satu manifestasi dari aksi Terorisme, memang tindakan tidak berperikemanusiaan. Tujuan dari tindakan tersebut adalah secara nyata membuat orang lain trauma, takut, terluka, dan bahkan meninggal dunia. Hal yang lantas membuat tujuan ini dramatis atau mungkin terpuji (bagi segelintir kelompok) adalah landasan kepentingan politik si teroris/kriminal dan liputan media massa.

Politik, dalam lingkup aksi teror, menjadi suatu tindakan dan imaji yang ambigu. Penyebabnya sedikit-banyak terangkum dalam frase berikut ini, “One man’s terrorist is another man’s freedom fighter.” Terorisme sebagai pemikiran politik atau Teroris yang merujuk kepada subjek pelaku adalah sebuah contested concept, atau konsep yang terbuka, dan bergulat memperebutkan pembenaran tidak saja di antara nilai kebaikan dan kejahatan melainkan juga keniscayaan serta ketidakniscayaan. Teror bisa dimaknai sebagai kebajikan, atau kebalikannya. Teror dapat juga bermakna instrumen politik atau sebaliknya, yaitu sekadar menjadi peristiwa teatrikal atau penyaluran hasrat yang destruktif. Dalam hal ini persepsi antara pelaku dan audiens juga sangat menentukan. Salah satu variabel yang memengaruhi pembentukan persepsi tersebut adalah bingkai pemberitaan media massa tentang aksi terorisme (pasca-kejadian).

Untuk peristiwa 17 Juli –tanpa bermaksud mendahului penyelidikan polisi, makna yang berlaku tampaknya pekat muatan politis. Dari segi waktu, aksi tersebut dilakukan pada masa pemilu (transisi pemerintahan). Dari segi lokasi, bom meledak di dua hotel mewah yang cocok menjadi penanda modernitas “dunia Barat.” Dari segi korban, ledakan menewaskan dan melukai eksekutif perusahaan asing yang sedang mendiskusikan data intelijen dunia usaha di Indonesia (business inteligence) alias “orang Barat.”

Kekerasan

Satu variabel yang melekat dan menjadi pangkal kontroversi dari terorisme adalah penggunaan kekerasan. Sudah dari dulu, konsep terorisme ini bersanding dengan segala bentuk tindakan kekerasan. Dulu, para anarkis di Eropa menyandang predikat “teroris” karena menghalalkan pembunuhan demi tujuan revolusi. Kini, Hamas dan Israel pun saling menistakan satu sama lain dengan kecaman “teroris.” Satu fakta yang banyak dilupakan adalah Teror atau Terorisme sebenarnya pernah memiliki makna positif, tepatnya pada masa Revolusi Prancis tahun 1793-4 melalui régime de la terreur.

Bagaimanapun, penggunaan instrumen kekerasan dalam mencapai tujuan politik bukanlah hal yang luar biasa baru. Sebaliknya, kekerasan bahkan bisa disebut bagian yang inheren dari dunia dan ide politik. Negara sebagai institusi politik tertinggi, misalnya, adalah satu-satunya institusi pemegang monopoli kekerasan. Dalam konteks ini, kekerasan menjadi bagian tak terpisahkan dari negara. Alih-alih dihilangkan, kekerasan malah diinstitusionalisasikan dan diresmikan berdasarkan hukum dan diwujudkan dalam bentuk angkatan bersenjata serta polisi.

Terorisme, dalam hubungannya dengan monopoli kekerasan, menjadi suatu tindakan penentangan atau pembangkangan terhadap negara. Ledakan bom di Marriot-Ritz Carlton memperlihatkan bahwa si teroris lebih lihai dibanding aktor keamanan negara, sehingga mereka bisa menjalankan misinya. Bila kekalahan ini berkelanjutan, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Pada ujungnya, eksistensi keberadaan negara pun turut terancam. Kita melihat kasus seperti ini di Afghanistan, Pakistan, dan beberapa negara Afrika. Serangan bom bunuh diri, bom mobil, dan aksi militer sepihak paramiliter bersaing dengan kekuasaan legal pemerintah untuk mengendalikan situasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Indonesia tentu tidak berada dalam keadaan ekstrem seperti itu. Polri, TNI, dan aktor keamanan negara lainnya masih –dan akan tetap- memiliki otoritas yang kuat guna mempertahankan NKRI. Namun kita tetap harus mengambil pelajaran dari negara-negara tersebut dan waspada terhadap merebaknya aksi bom bunuh diri dan bentuk teror lainnya. Indonesia Unite! Indonesia menolak takut.  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: