SECURITY STUDIES UPDATE

Ideologi/Diskursus dalam Studi Keamanan. Kasus: ‘Musuh-musuh’ Amerika Serikat dalam Lensa Hollywood

Posted in Cakrawala SSU by securitystudiesupdate on September 30, 2009

Oleh MUHAMAD HARIPIN*

Sejauh ini studi keamanan kontemporer telah menyediakan banyak perangkat teoretis yang relatif mumpuni dalam banyak hal. Bila dulu, ambillah periode dekade ’80 hingga awal ’90-an ketika dunia terancam oleh perang nuklir, sektor keamanan dipahami dalam konteks kemiliteran dan pertahanan negara, kini keamanan sudah dipahami lebih jauh serta lebih dalam daripada kedua hal itu. Keamanan tidak saja identik dengan isu eksistensi suatu negara, kini pembahasan berkembang maju karena memasukkan isu substansial yakni eksistensi individu atau keamanan insani (human security).

Namun apakah dengan segala perkembangan itu studi keamanan telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang mapan dan lengkap. Saya pikir belum. Masih ada celah, atau bisa disebut kesenjangan, objek kajian yang belum terjangkau oleh studi keamanan. Sampai saat ini studi keamanan terlalu asyik mengamati fenomena keamanan dalam wujud materiil, sesuatu yang tangible. Apa yang dimaksud materiil atau tangible ini tidak selalu berarti objek kajian itu benar-benar bisa terdeteksi oleh panca indera. Ambil contoh, konsepsi tentang Negara. Kita tidak bisa melihat atau menyentuh Negara. Namun studi keamanan dapat membahas Negara dalam wujudnya sebagai manifestasi ide, yaitu entitas politik yang riil, legal-formal, dan institusional. Dalam hal ini pisau analisis keamanan membedah berbagai elemen Negara, seperti perilaku, interaksi, dan kebijakan.

Dalam konteks ini saya pikir studi keamanan harus mulai memusatkan perhatian pada objek kajian yang intangible, sesuatu yang tidak terdeteksi oleh panca indera tapi kita tahu sesuatu itu ada. Dan yang lebih penting lagi, keberadaan sesuatu itulah yang justru sebenarnya selama ini telah dan akan menentukan arah gerak sejarah dunia melebihi apapun. Sesuatu itu adalah ide, atau yang disebut pula sebagai ideologi/diskursus (discourse). Negara, mengikuti contoh di atas, tidak hanya mencakup perangkat keras seperti misalnyaaparatur pemerintahan, institusi militer, dan  pajak, melainkan perangkat lunak berupa perangkat ide yang menopang eksistensi Negara itu sendiri. Dengan kata lain, Negara juga terbangun dari basis pemikiran yang melandasi serta menjustifikasi eksistensi Negara. Urusan ide ini tidak kalah penting bila dibandingkan dengan wujud materiil Negara yang mencakup teritori, institusi pemerintahan, serta warga negara.

Kajian sebelumnya

Ide dan ideologi/diskursus memiliki tempat tersendiri dalam bangunan ilmu sosial. Dalam studi hubungan internasional, sebagai contoh, dikenal apa yang disebut sebagai soft power. Konsep ini menguraikan kapabilitas kekuasaan persuasif non-kekerasan dari aktor hubungan internasional untuk mencapai tujuan tertentu. Di dalam format kekuasaan ini terdapat instrumen ekonomi, sosial budaya, pendidikan, diseminasi ide dan nilai (values), dll. Model relasi ideal yang ingin dicapai melalui soft power adalah kerjasama atau kooperasi. Satu atau beberapa aktor akan mengedepankan jalur diplomasi dan kerjasama ekonomi untuk memengaruhi kebijakan aktor lain.

Pada tahap ini ide, ideologi/diskursus kemudian menjadi instrumen sekaligus aset yang berharga dalam kancah politik internasional. Hal ini disebabkan oleh salah satu karakteristik inheren ideologi/diskursus yaitu menentukan derap langkah kemajuan maupun kemunduran aktor di masa depan. Berkaitan dengan sistem dunia, ideologi/diskursus bahkan menjadi bagian dari pertarungan global. Aktor A memiliki tendensi untuk memengaruhi perilaku dan interaksi aktor B melalui infiltrasi nilai. Sekalipun berlandas kepada kooperasi, soft power tetap tidak dapat lepas dari elemen instrinsik sebuah kekuasaan yakni tendensi untuk menguasai pihak lain. Problemnya adalah apakah tindak menguasai tersebut dilakukan secara koersif atau persuasif. Model relasi ini, bagaimanapun juga, lazim terjadi dalam konstelasi politik global.

Keadaan ini merupakan konteks bagi perang ideologi/diskursus yang terjadi di dunia. Pada masa Perang Dingin –sebagai contoh, Amerika Serikat (AS) mengusung ideologi/diskursus demokrasi liberal yang berasaskan kepada individualisme dan kebebasan. Sementara itu, Uni Soviet menjagokan ideologi/diskursus sosialisme negara yang berasaskan kolektivisme dan perjuangan kelas. Perang ini lebih tepat disebut sebagai perang ideologi –sebagaimana telah diuraikan oleh para ahli. Suatu negara ingin membuktikan bahwa nilai dan institusi yang dimilikinya memiliki keunggulan dibanding negara lain. Pertaruhan perang ini sangat besar, yaitu kebanggaan berbangsa (patriotisme) dan peran signifikan dalam sistem internasional (aktor kuat). Berdasarkan kondisi tersebut, penggunaan ideologi/diskursus dalam kancah global menjadi krusial, sama halnya dengan misil balistik dan bom nuklir.

Pada dekade ’80-an, Presiden AS Ronald Reagan mengejek Uni Soviet dengan sebutan ‘Evil Empire.’ Dua dekade kemudian, Presiden George Bush, Jr. menyematkan sebutan ‘Axis of Evil’ kepada Irak, Iran, dan Korea Utara, serta mengampanyekan ‘Global War on Terror.’ Penyebutan, atau permainan, kata-kata ini tidak berakhir di ujung lidah. Namun menjadi ideologi/diskursus AS untuk menistakan pihak lain. Penggunaan ideologi/diskursus ini berlangsung secara masif. Media massa sangat berperan dalam fenomena tersebut. AS memosisikan diri sebagai ‘orang baik,’ sedangkan mereka, yakni Uni Soviet dan teroris Al-Qaeda sebagai ‘orang jahat.’ Fenomena ini menjadi contoh bagaimana penerapan ideologi/diskursus dalam sektor keamanan. Mengutip ungkapan Subcomandante Marcos –untuk tujuan yang berbeda dari konteks pernyataannya- kata bertransformasi menjadi senjata. Kata adalah instrumen ‘senjata’ untuk memengaruhi atau bahkan melukai pihak lain agar menuruti kehendak aktor tertentu.

‘Musuh-musuh’ AS

Guna menjelaskan ideologi/diskursus dalam studi keamanan, tulisan ini akan menguraikan studi kasus pencitraan kalangan sineas Hollywood atas pihak yang dipersepsikan sebagai ancaman (threat) atau musuh bagi keberlangsungan diseminasi nilai demokrasi liberal serta individualisme AS. Kalangan sineas Hollywood, untuk konteks ini, dapat dipandang baik sebagai: 1) aktor non-negara yang patriotik; 2) atau, tak lebih dari perpanjangan tangan pemerintah AS yang berkuasa (aktor negara). Kedua peran tersebut tidak memiliki perbedaan berarti dalam hal mekanisme serta eksekusi diseminasi ide, sebenarnya. Pemerintah maupun kalangan sineas berselancar di atas kultur budaya pop khas AS yang secara historis telah berkembang ke seluruh dunia sejak dekade ’60-an. Pendekatan ini mungkin, sebagaimana akan/telah disadari pembaca, memiliki banyak kekurangan. Berdasar hal tersebut, penulis membuka lebar pintu kritisisme bagi ulasan berikutnya.

Banyak dari kita, saya pikir, masih ingat dengan heroisme film laga berjudul Rambo. Dalam film yang dibintangi oleh Sylvester Stallone tersebut, karakter utama Rambo pembela AS secara total memorak-porandakan tentara Vietnam Utara yang bersembunyi di hutan. Plot cerita serupa kemudian tampil dalam Rambo IV. Si Rambo yang ‘heroik’ berhadapan dengan junta militer Myanmar sebagai ‘penjahat.’ Selain Rambo, Hollywood memroduksi banyak karakter sinema lain yang menjadi ikon kultural berupa jagoan, superhero, dan pasukan elit. Musuh-musuh yang ‘dihabisi’ oleh Hollywood, di antaranya adalah Komunis (Uni Soviet, Republic Rakyat Cina, dan negara-negara Amerika Latin), Arab dan Timur Tengah –termasuk gerilyawan sokongan komunis, serta Asia (Vietnam dan Korea Utara).

Dalam pergelaran drama ‘baik’ versus ‘jahat’ ini, AS menjalankan strategi penistaan terhadap musuh. Komunis dan Arab, misalnya, dicitrakan sebagai bangsa yang dekaden, otoriter, represif, tertutup, dan brutal. Apakah ‘musuh’ memang benar seperti itu dalam realitas keseharian tidaklah menjadi urusan. Hal yang penting adalah penonton menerima pesan pencitraan (image) bahwa representasi serta identifikasi atas citra ‘musuh’ memang demikian adanya. AS, sebaliknya, mencitrakan diri sebagai pihak yang berbeda 180 derajat dari musuh: maju, demokratis, terbuka, plural, dan bebas. Pencitraan ini kemudian menarik simpati penonton. Benak penonton sebagai konsumen tanda dipenuhi oleh imaji tentang kehancuran ‘musuh’ dan kekaguman atas demokrasi liberal.

Produksi ideologi/diskursus ini terus berlangsung hingga saat ini. Pasca-keruntuhan menara kembang World Trade Center pada 11 September 2001, Hollywood banyak sekali memroduksi film-film tentang terorisme. Fenomena ini bisa ditelaah sedikitnya berdasar dua pandangan. Pertama, film –selain sebagai medium hiburan- juga berperan sebagai monumen atau pengingat atas terjadinya sesuatu. Seperti halnya dengan tren film tentang Nazi pada Perang Dunia II, film tentang terorisme menjadi pernyataan politik (political statement) kalangan sineas –yang mendapat dukungan legitimasi dari pemerintah- bahwa masyarakat AS kini terancam oleh ‘si jahat’ teroris. Kedua, film-film terorisme pun berfungsi untuk mengangkat moral masyarakat maupun tentara AS yang sedang bertugas di Irak dan Afghanistan. Khusus bagi tentara, film yang menyajikan skenario kemenangan ‘jagoan AS’ dalam menghadapi ‘musuh/teroris’ diharapkan akan menumbuhkan mental tempur prajurit. “Kebenaran dan kemenangan ada di pihak AS. Dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” demikianlah narasi patriotisme yang terbangun melalui lensa kamera Hollywood.

Penutup

Diseminasi ideologi/diskursus dalam kancah politik global telah dilakukan oleh negara-negara besar. AS, sebagai contoh, memanfaatkan nilai (values) demokrasi liberal sebagai trademark instrumen keamanan. AS menyebarkan ideologi/diskursus ini ke seluruh dunia, baik melalui forum kenegaraan resmi maupun memanfaatkan produk kultur pop semisal film. Produksi film-film patriotis menjadi penanda bahwa AS memiliki identitas tertentu yang menjadi aset penting untuk dipertahankan bagi masyarakat.

Pada tahap ini, studi keamanan bisa memberikan sumbangsih berharga melalui konsep societal security yang mencakup keamanan budaya serta identitas. Namun sumbangsih melalui konsep yang sudah ada tentu tidak cukup. Studi keamanan memerlukan pisau analisis yang secara khusus dapat menelaah bagaimana ideologi/diskursus menjalankan peran signifikan dalam sektor keamanan. Penambahan objek kajian ini akan menimbulkan konsekuensi teoritis. Studi keamanan yang sedari kelahirannya dibidani oleh ilmu politik dan hubungan internasional ini, harus mulai membuka diri terhadap disiplin ilmu yang lain seperti cultural studies dan komunikasi guna menjangkau objek kajian diskursus, narasi, serta teks.

* Alumni Program Sarjana Reguler Departemen Ilmu Politik FISIP UI.

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. DJ said, on October 1, 2009 at 6:00 am

    Tulisan yang bagus dan sangat kritis. Di satu sisi saya juga mengamati bahwa hollywood itu memang sejatinya seperti sebuah perpanjangan tangan dari suatu kepentingan(institusi/organisasi) yang memang ingin membuat image2 atau issue2 yang akan membela kepentingan ini dan menciptakan “kebenaran” versi mereka.
    Between Good & Evil itu tidak lain scenario sang sutradara untuk melakukan “mind control” kepada semua orang yang mengkonsumsi produk2 film dari Hollywood. Secara ilmiah memang masih sulit untuk membuktikan apa saja “media2” yang digunakan oleh institusi ini apalagi dikait2kan dengan “conspiracy theory”. Tapi ada baiknya jika dalam menganalisa hal ini kita perlu mengamati juga sejarah-sejarah perkembangan Hollywood dan kepentingan apakah yang bersembunyi di belakangnya.

  2. securitystudiesupdate said, on October 1, 2009 at 3:02 pm

    terima kasih banyak atas komentarnya.
    ya saya sepakat bahwa urusan Hollywood ini sebaiknya ditelusuri pula dari aspek historis. dan tepat pada tahap ini, saya pikir studi keamanan harus melakukan perluasan objek kajian, khususnya untuk membedah fenomena kepentingan dan power dalam ranah ideologi/diskursus, serta hubungannya dengan sektor pertahanan keamanan.

  3. Rizki Affiat said, on October 7, 2009 at 8:14 am

    Sebagian besar dari artikel ini mengingatkan saya dengan bahasan Orientalisme-nya Edward Said – berbicara tentang diskursus versi ‚Barat’ yang termanifestasi secara intangible lewat internalisasi nilai, atau mungkin ‚kontestasi diskursus’ atas oposisi biner yang klasik: Barat versus Timur, Barat versus Islam, dsbnya. Terlepas dari tidak adanya garis pemisah yang definit dari oposisi biner ini, pada kenyataannya pemaknaan atas teksnya cenderung saling dihadapkan (vis-a-vis), atau dikonfrontasikan, meski secara implisit. Kalau versi George Bush (atau Huntington sekalipun?) saya membayangkan oposisi ini ibarat dua orang yang tidak terlalu kenal satu sama lain kemudian dibuat seolah-olah [juga] tidak saling suka sama lain dengan memaksa kedua orang itu, meski malas-malasan, untuk berhadapan satu sama lain. Masing-masing disodorkan senjatanya sendiri dan didorong-dorong untuk berkelahi di atas altar. Tapi siapa yang ada dibalik upaya mendorong kedua pihak ini untuk berkonfrontasi di altar? Tentu pihak yang lebih dominan – mencoba menunjukkan superioritasnya atas teks dan konteks.

    Yang sangat menarik dalam tulisan singkat ini menurut saya adalah bagaimana Haripin mengkombinasikan hal ini dengan analisis ringkas terhadap persoalan keamanan dan film Hollywood. Term ‚demorkasi liberal’, ‚komunisme’, ‚terorisme’ dsbnya dibungkus dengan diskursus hiburan tapi tidak mengurangi signifikansinya pada paradigma publik tentang keamanan. Saya jadi teringat dengan salah satu isi novel ‚State of Fear’-nya Michael Crichton, bahwa kurang lebih kekuasaan selalu menkonstruksi elemen untuk ditakuti publik. Intinya, tidak boleh ada ‚kekosongan rasa takut’ di publik. Semakin publik mudah merasa takut, semakin kekuasaan atas nama ‚keamanan’ pun langgeng. Dalam hal ini, konstruksi dibuat terus menerus dan dalam konteks kontemporer, industri film Hollywood berperan dalam pencitraan ini.

    Tentunya masih ada film-film yang kritis, yang berbeda dari mainstream film heroik ala Hollywood, semisal, tentunya Haripin juga tahu, film ‚Lions for Lambs’ (is it the right title? Robert Redford movie), Syriana (George Clooney), ada juga film tentang agen AS di Timur Tengah yang diperankan Redford dan Brad Pitt (saya lupa judulnya) – dan lain-lainnya, yang menyuguhkan film Amerika dengan perspektif berbeda, dalam artian ‘kurang populer’ – tidak selalu mengelu-elukan oposisi biner dan heroisme Amerika Serikat.

    Saya sepakat dengan Haripin dalam penutupnya, saya kutip,

    “Studi keamanan yang sedari kelahirannya dibidani oleh ilmu politik dan hubungan internasional ini, harus mulai membuka diri terhadap disiplin ilmu yang lain seperti cultural studies dan komunikasi guna menjangkau objek kajian diskursus, narasi, serta teks.”

    Menurut saya ide ini sangat menarik dan menantang, dan membuat studi keamanan – sepanjang persepsi subjektif saya – tidak berkesan ‘kaku’ dan ‘militeristik’ melainkan fleksibel, fleksibel dalam artian ia memberi nilai dan bobot yang berbeda, yang lebih antisipatif terhadap fluktuasi dan relativitas konteks dimana objek studi keamanan itu sendiri tidak pernah lepas dari kontestasi yang mengitarinya.

    Saya tunggu kajiannya lebih mendalam! Terima kasih.

  4. securitystudiesupdate said, on October 9, 2009 at 3:33 pm

    terima kasih atas komentarnya🙂

    dewasa ini saya kira kajian tentang diskursus, narasi, serta teks/konteks semakin tidak dapat dipinggirkan oleh objek studi mana pun. dalam hal ini termasuk studi keamanan.

    namun studi keamanan sebenarnya tidak benar-benar asing dengan diskursus, dll. konsepsi ‘perang modern’ (untuk pengertian konvensional dari term ‘keamanan’) mencakup juga virtual war dan revolution in military affairs (RMA) yang bila kita mau telaah lebih seksama, di dalamnya pun terkandung kebutuhan pemahaman akan peran media dan teknologi -sebagai contoh- yang bekerja dalam tataran psikologis prajurit (para pihak yang bertempur). psikologis, dalam artian bagaimana mengeksploitasi atau memanipulasi ‘berita,’ ‘wacana,’ dll untuk kepentingan menjatuhkan mental lawan. berangkat dari hal tersebut, apa yang perlu berlaku dalam studi keamanan adalah semacam adaptasi, perluasan, atau perkembangan objek kajian.

    salam hangat,
    mh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: